Sanggar Rengganis Serukan Strategi ‘Literasi Tari’ dari Lingkup Keluarga


CIMAHI ll Wartapolitan – Di tengah derasnya arus penetrasi budaya asing yang mendominasi tren anak muda saat ini, keberadaan seni tradisional berada pada titik krusial. 

Menanggapi fenomena tersebut, Ibu Dewi, pemilik Sanggar Rengganis yang berlokasi di Gg. Kenanga, Kelurahan Cibabat, Cimahi Utara, menegaskan bahwa peran Ibu bukan sekadar pendidik, melainkan filter strategis dalam menjaga identitas bangsa.

Ibu Dewi mengungkapkan bahwa perjuangan melestarikan tari tradisional harus dimulai dari unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga. Menurutnya, pendekatan yang dilakukan tidak bisa lagi sekadar konvensional, melainkan harus adaptif dan konsisten.

Ibu Dewi menekankan bahwa mengenalkan seni tari di era digital memerlukan kecerdikan. Selain memanfaatkan media sosial sebagai etalase, sentuhan fisik dan penjelasan filosofis tetap menjadi kunci utama. "Kita harus masuk sedikit demi sedikit. Tidak cukup hanya menyuruh, tapi ibu harus menggerakkan tubuh, memberikan contoh nyata agar anak paham bahwa tari bukan sekadar gerak, melainkan bahasa tubuh yang kaya makna," ujar Ibu Dewi saat ditemui disanggar Rengganis Senin, 22/12/2025.

Ia menambahkan bahwa konsistensi harian adalah harga mati. Di Sanggar Rengganis, pelatihan dilakukan setiap hari untuk membentuk kedisiplinan dan kecintaan yang mendarah daging.

Ibu Dewi tidak menampik bahwa tren budaya luar menjadi tantangan terbesar. Namun, ia memandang hal ini sebagai momentum bagi para ibu untuk lebih proaktif. "Tantangannya nyata. Anak-anak kita sangat menyukai tradisi luar. Tugas kita bukan memusuhi tren tersebut, melainkan merangkul anak-anak kita kembali, memberi pemahaman, dan membuktikan bahwa budaya sendiri memiliki nilai estetika dan perjuangan yang tidak kalah hebat," tegasnya secara instruktif.

Memasuki momentum Hari Ibu, Ibu Dewi mengusulkan agar seni tari dijadikan instrumen penghormatan yang edukatif. Salah satu bentuk yang paling efektif adalah melalui drama tari. 

Menurutnya, drama tari mampu memvisualisasikan nilai-nilai perjuangan seorang ibu secara emosional dan mudah dipahami oleh generasi muda. Bagi Ibu Dewi, peran ibu mencakup tiga pilar utama yaitu mendidik, mencontohkan, dan mengenalkan. 

Ia meyakini bahwa pendidikan seni tari sejak dini adalah satu-satunya cara untuk memastikan estafet budaya tidak terputus. "Seni tari adalah bahasa tubuh yang universal. Jika kita berhasil menanamkan rasa bangga ini sejak dini, maka generasi muda akan menjadi garda terdepan yang melestarikan identitas kita secara mandiri di masa depan," pungkasnya. ( Dendi )

Posting Komentar untuk "Sanggar Rengganis Serukan Strategi ‘Literasi Tari’ dari Lingkup Keluarga"