Gambus Misri Jombang Seni Islami yang Terus Berjuang dari Kepunahan
Jombang ll Wartapolitan - Eksistensi kesenian Gambus Misri di Desa Plandi, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, kini bak embun di ujung tanduk. Seni pertunjukan yang pernah berjaya pada masanya itu kini hanya tinggal cerita, berharap uluran tangan pelestarian.
Upaya menyelamatkannya bukan sekadar menjaga aliran musik, tetapi juga merawat identitas budaya dan religi yang telah mengakar turun-temurun di masyarakat.
Imam Ghozali, seorang pemerhati budaya dan sejarah Kabupaten Jombang, menuturkan asal-usul seni ini. "Gambus Misri, kalau Cak Nun mengatakan, adalah ludruk versi Islam," ujarnya.
Ia menjelaskan, kreator paling pertama kesenian ini adalah Pak Asfandi, ayah dari pelawak legendaris Asmuni dari grup Srimulat. Kala itu, Asfandi adalah seorang santri kalong yang mengaji di Pondok Pesantren Tebuireng.
"Suatu ketika Pak Asfandi ikut pementasan ludruk. Dia ditanya oleh KH. Hasyim Asy'ari, 'Kenapa ikut ludruk?'. Ditanya begitu, Pak Asfandi bingung, dikira tidak direstui. Akhirnya dia mencari akal dan menggelar pertunjukan yang strukturnya sama dengan ludruk, tapi kontennya berbeda. Inilah yang kemudian dinamakan Gambus Misri," papar Imam.
Imam Ghozali menjabarkan soal penamaan "Misri" yang kerap dikaitkan dengan Mesir. Menurutnya, kata "misri" sejatinya berasal dari bahasa Arab 'Al Masri' yang di Mesir digunakan sebagai nama perempuan. Di Indonesia, nama ini juga digunakan di beberapa daerah seperti Pandeglang, Purwakarta, Serang, dan Sumenep.
"Misri, kalau dilihat dari numerologi jumlahnya 68, mempunyai karakter kerja keras dan mandiri.
Mungkin dari kata misri itulah kemudian dikaitkan dengan Mesir, lalu dirangkai dengan kata 'gambus' menjadi sebuah istilah sandiwara Gambus Misri," ungkapnya.
Struktur pementasannya, lanjut Imam, hampir mirip dengan ludruk. Diawali dengan giro (pembukaan dengan musik untuk menarik penonton), kemudian ucapan selamat datang, dan dilanjutkan dengan tarian.Yang membedakan Gambus Misri dengan ludruk terletak pada konten ceritanya. Imam membagi perkembangan cerita Gambus Misri menjadi empat periode:
1. Periode Awal: Mengangkat cerita-cerita Timur Tengah klasik, seperti kisah Umar bin Khattab, Bilal, dan Siti Masitoh.
2. Periode 1970-an: Mulai terpengaruh film. Muncul cerita modern seperti adaptasi dari film Rhoma Irama, Bawang Merah Bawang Putih, dan Ratapan Anak Tiri.
3. Periode Persaingan dengan Ludruk: Gambus Misri mulai mengadopsi cerita legenda lokal seperti Sogol Sumur Gemuling, Sunan Kalijaga, dan Joko Kendil untuk mempertahankan eksistensi dan menuruti permintaan pasar.
4. Periode Revitalisasi (2010-an): Setelah vakum lama sejak 1980-an, muncul upaya revitalisasi di kampus-kampus dengan menciptakan cerita-cerita yang sangat modern versi anak muda.
Kekhawatiran serupa disampaikan Syamsudin, dzuriyah salah satu sesepuh dan pembabat Desa Plandi. Ia menyuarakan harapannya yang mendalam agar kesenian tradisional Gambus Misri Mawar Bersemi dapat dihidupkan kembali.
"Grup Gambus Misri Mawar Bersemi sejak saya kecil sudah ada. Ini merupakan salah satu aset budaya yang turut memeriahkan berbagai acara, baik hajatan pernikahan, khitanan, maupun festival budaya di Jombang dan sekitarnya," kenang Syamsudin saat ditemui di kediamannya, Jumat (28/11/2025).
Syamsudin menjelaskan, Gambus Misri Mawar Bersemi dikenal dengan irama khas yang menggabungkan alat musik gambus, rebana, dan biola, diiringi vokal mendayu serta syair berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW, nasihat kehidupan, dan cerita Islami.
Namun, tantangan terbesar adalah regenerasi. "Anak-anak muda sekarang lebih tertarik dengan musik modern. Butuh kesabaran dan komitmen tinggi untuk belajar gambus. Kami sangat membuka pintu lebar-lebar bagi siapa pun yang ingin belajar," ajaknya penuh harap.
Ia berharap dukungan dari berbagai pihak, seperti Pemerintah Desa dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jombang, dapat mengalir. Bentuk dukungan bisa berupa penyediaan ruang pentas, bantuan peralatan, atau memasukkan kesenian gambus ke dalam ekstrakurikuler sekolah.
“Dengan dukungan bersama, saya yakin Gambus Misri bisa tetap bersemi dan tidak hanya menjadi kenangan,” pungkas Syamsudin penuh keyakinan.
Upaya pelestarian ini diharapkan bukan hanya sekadar menjaga sebuah aliran musik, tetapi juga merawat identitas budaya dan religi masyarakat Desa Plandi yang telah mengakar turun-temurun. (yayan/Gus poer)
Posting Komentar untuk "Gambus Misri Jombang Seni Islami yang Terus Berjuang dari Kepunahan"