Darurat Karhutla, Pendiri Komunitas Peduli Lingkungan Ajak Kembali ke Kearifan Adat


Bogor ll Wartapolitan.com - Musim kemarau selalu membawa kekhawatiran yang sama: kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dedaunan kering, semak belukar, dan lahan yang gersang menjadi sangat rentan. Satu percikan kecil saja bisa berubah menjadi bencana asap yang merugikan banyak orang.

Karhutla bukan hanya soal hilangnya pepohonan. Lebih dari itu, ia merampas udara bersih, mengganggu kesehatan, melumpuhkan aktivitas sekolah dan ekonomi, serta merusak ekosistem yang butuh puluhan tahun untuk tumbuh kembali. Ironisnya, sebagian besar karhutla dipicu oleh ulah dan kelalaian manusia.

Pemerhati Lingkungan dan Budaya sekaligus Pendiri Komunitas Peduli Lingkungan (Kopling), Andy Java, menegaskan bahwa kunci pencegahan karhutla ada pada kesadaran menjaga lingkungan dari hal yang paling sederhana.

"Karhutla itu tidak datang tiba-tiba. Awalnya dari kebiasaan kecil yang kita anggap sepele. Membuang puntung rokok sembarangan di lahan kering, membakar sampah di kebun saat angin kencang, atau membuka lahan dengan cara dibakar karena dianggap cepat dan murah. Dari api kecil itulah bencana besar bermula," ujar Andy Java. Rabu, (23/9/2026). 

Ia juga menyoroti kebiasaan membuang sampah sembarangan yang masih sering terjadi di pinggir hutan, kebun, dan lahan kosong. Menurutnya, sampah kering, plastik, dan botol kaca yang terpapar panas matahari bisa menjadi pemicu api yang sangat berbahaya.

"Kita harus stop buang sampah sembarangan. Jaga hutan dan lahan itu sama dengan menjaga paru-paru kita sendiri. Kalau hutan rusak, yang rugi bukan hanya hewan dan tumbuhan, tapi kita manusia. Tidak ada hutan, tidak ada kehidupan," tegas pendiri Kopling ini.

Andy Java menjelaskan, melalui Kopling pihaknya terus melakukan edukasi, aksi bersih hutan, dan kampanye peduli lingkungan. Namun ia menilai, upaya modern dengan teknologi, patroli, dan pemadaman saja tidak akan maksimal tanpa melibatkan penjaga hutan yang sesungguhnya: masyarakat adat.

Menurutnya, masyarakat adat adalah contoh nyata bagaimana manusia bisa hidup selaras dengan alam. Mereka memiliki hukum adat, pantangan, ritual, dan pengetahuan tentang musim, sumber air, dan pengelolaan lahan yang telah teruji ratusan tahun.

"Selama ini Kopling selalu menggandeng masyarakat adat. Mereka punya kearifan lokal yang luar biasa. Mereka tahu kapan boleh membuka lahan, kapan harus berhenti, mana kawasan yang tidak boleh disentuh. Ini adalah sistem pencegahan karhutla paling tua dan paling efektif. Jangan jadikan mereka penonton, jadikan mereka garda terdepan penjaga hutan," katanya.

Untuk itu, Andy Java mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melakukan langkah nyata bersama:

1. Stop Membakar: Hentikan kebiasaan membuka lahan dan membersihkan kebun dengan cara dibakar.

2. Stop Buang Sampah Sembarangan: Kelola sampah dari rumah, pilah sampah, dan jangan pernah membuang sampah di hutan dan lahan kosong.

3. Gandeng Masyarakat Adat: Pemerintah, perusahaan, akademisi, dan komunitas harus berkolaborasi dan memberi ruang bagi masyarakat adat untuk memimpin gerakan penjagaan hutan berbasis kearifan lokal.

"Ingat, alam ini bukan warisan nenek moyang yang bisa kita habiskan seenaknya, tapi titipan untuk anak cucu kita. Kalau kita jaga hutan hari ini, anak cucu kita masih bisa menghirup udara bersih besok. Kalau kita bakar hari ini, mereka hanya akan mewarisi abu," pungkas Andy Java. (Red)

Posting Komentar untuk "Darurat Karhutla, Pendiri Komunitas Peduli Lingkungan Ajak Kembali ke Kearifan Adat"