Pakar Panas Bumi dari ITB, Ada Risiko Yang Perlu Dianalisis Secara Menyeluruh Sebelum Proyek Dilanjutkan


Cianjur ll Wartapolitan — Diskusi mengenai pengembangan energi panas bumi berlangsung dalam forum sosialisasi yang digelar oleh unsur masyarakat Kecamatan Pacet pada Jumat sore, 13 Maret 2026, di Vila 45 Cipendawa. Kegiatan yang berlangsung menjelang waktu berbuka puasa ini menghadirkan pakar panas bumi dari Institut Teknologi Bandung, Ali Ashat, sebagai narasumber utama.

Forum tersebut membahas berbagai aspek pengembangan energi panas bumi di Indonesia, mulai dari potensi energi hingga risiko teknis, finansial, dan lingkungan. Diskusi juga menyinggung dampak ekologis yang mungkin muncul jika proyek geothermal dikembangkan di kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi. Dalam pemaparannya, Ali Ashat menjelaskan bahwa kajian geothermal pada tingkat regional hanya memberikan gambaran umum mengenai potensi energi panas bumi. Penentuan lokasi eksplorasi yang lebih spesifik, menurut dia, memerlukan studi yang lebih rinci dan komprehensif. 

 “Pemetaan regional memberikan indikasi adanya sistem panas bumi. Namun untuk menentukan titik eksplorasi secara pasti diperlukan kajian yang jauh lebih detail, termasuk penelitian geologi dan pengeboran eksplorasi,” kata Ali dalam forum tersebut.

Ia menambahkan bahwa pengembangan proyek geothermal selalu dihadapkan pada sejumlah risiko yang perlu dianalisis secara menyeluruh sebelum proyek dilanjutkan. Risiko tersebut mencakup aspek teknis, keuangan, serta dampak terhadap lingkungan. Selain itu, diskusi juga menyinggung potensi fragmentasi ekosistem akibat pembangunan infrastruktur proyek, seperti jalan akses menuju lokasi pengeboran dan fasilitas pendukung lainnya. Fragmentasi habitat dapat memengaruhi keseimbangan ekologi jika tidak direncanakan secara hati-hati.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pendekatan yang dikenal sebagai *low footprint geothermal development*, yakni model pengembangan yang berupaya meminimalkan pembukaan lahan dan dampak ekologis melalui pembangunan bertahap serta pemantauan lingkungan secara berkelanjutan. Isu lain yang turut dibahas adalah kemungkinan terjadinya gempa kecil yang dipicu oleh aktivitas geothermal. Dalam literatur geologi, fenomena ini dikenal sebagai Induced Seismicity.

Menurut Ali, gempa yang berkaitan dengan aktivitas geothermal umumnya berskala kecil dan berbeda dengan gempa besar yang bersifat tektonik alami. “Gempa yang berkaitan dengan aktivitas geothermal biasanya kecil dan tidak menimbulkan kerusakan besar. Gempa besar yang sering terjadi di Indonesia pada umumnya merupakan gempa tektonik alami,” ujarnya. 

Pertanyaan dalam forum tersebut disampaikan oleh analis dari Rumah Bersama Urang Cianjur (RBUC), Ridwan Marcell. Ia menyoroti pentingnya transparansi kajian ilmiah serta perlunya komunikasi yang terbuka antara pengembang proyek, pemerintah, dan masyarakat. Meski demikian, sejumlah peserta menilai waktu diskusi yang tersedia relatif terbatas untuk membahas isu geothermal yang cukup kompleks. 

Beberapa pertanyaan dari masyarakat belum sempat disampaikan secara lebih mendalam, terutama terkait dampak lingkungan, sumber air, serta mekanisme pengawasan jika eksplorasi benar-benar dilakukan. Ridwan mengatakan dialog publik mengenai geothermal sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih utuh. 

“Topik geothermal ini cukup kompleks, mulai dari aspek geologi, risiko eksplorasi, sampai dampak sosial dan lingkungan. Karena itu diskusi seperti ini sebaiknya tidak berhenti di satu forum saja,” ujarnya.

Ia berharap ruang dialog yang lebih luas dapat terus dibuka agar masyarakat di sekitar kawasan Gunung Gede Pangrango dapat memperoleh informasi yang lebih lengkap sebelum berbagai keputusan terkait pengembangan energi panas bumi diambil. Diskusi berlangsung sekitar satu jam sebelum ditutup dengan buka puasa bersama para peserta. (Red02)

Posting Komentar untuk "Pakar Panas Bumi dari ITB, Ada Risiko Yang Perlu Dianalisis Secara Menyeluruh Sebelum Proyek Dilanjutkan "