Membaca Peta Politik 2029


*Oleh: Yakub F. Ismail

Kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 diproyeksikan bakal berjalan seru. Ini disebabkan arena pertarungan politik yang terjadi dalam kurang dari 3 tahun ke depan akan sarat simbol, sejarah, dan kesinambungan kekuasaan. 

Setidaknya terdapat tiga faksi kekuatan politik yang bertolak dari dinasti besar politik Indonesia yang kemungkinan ikut mewarnai dimanika persaingan politik akan datang.

Ketiga faksi politik direpresentasikan oleh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Gibran Rakabuming Raka, dan Puan Maharani, yang masing-masing mewakili klan politik pewaris estafet di klannya masing-masing.

AHY, misalnya merupakan pewaris bagi klan kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Gibran yang meneruskan dinasti kekuasaan Joko Widodo (Jokowi), dan Puan Maharani yang bakal menjadi representasi warisan kepempinan Megawati. 

Namun, apa yang menarik ke depan adalah bahwa mereka tidak sekadar membawa nama keluarga, melainkan juga jejaring politik, infrastruktur partai, dan basis loyalis yang telah terbangun selama dua dekade terakhir. 

Peta kompetisi kekuasaan 2029 tentu tidak akan berhenti pada romantisme trah politik. Lebih dari itu, momentum tersebut mengilustrasikan sebuah potensi perubahan geopolitik global, eskalasi konflik internasional, dan kompetisi ekonomi antarnegara.

Di tengah arus perubahan eskalasi politik dunia, muncul sosok Prabowo Subianto yang masih menawarkan narasi memikat tentang kepemimpinan berbasis strategi global dan pertahanan nasional. 

Demikian, pertarungan akan datang benar-benar menampilkan sebuah adu srategi, taktik dan reputasi yang sejauh ini mewakili gerbong masing-masing.

Jelas, ini bukan sekadar duel elektoral biasa, melainkan sebuah kontestasi yang sarat akan kesinambungan kekuasaan dan pendekatan geopolitik yang lebih luas. Publik akan disuguhkan dengan dinamika yang menarik sehingga memiliki kesempatan untuk menilai mana pilihan yang layak dan rasional untuk diputuskan.

*Menjemput Dinamika Pilpres 2029*

Jalan menuju Pilpres 2029 kini mulai dipersiapkan masing-masing kontestan. Kesempatan akan datang bakal menjadi salah satu kontestasi paling dinamis dalam sejarah demokrasi elektoral yang ada di Indonesia pascareformasi. 

Dinamikanya tidak hanya unik, tapi juga sarat simbol dan makna karena mempertemukan figur-figur dengan latar belakang politik dan sejarah yang cukup kuat di panggung nasional.

AHY, misalnya, dianggap sebagai figur muda penerus trah SBY yang membawa warisan Demokrat dengan segala citra kepemimpinan yang selama ini melekat pada seperti citra rasional-teknokratis ala SBY. 

Lalu, di samping itu, ada sosok Gibran merepresentasikan kesinambungan gaya kepemimpinan populis-nasionalistik yang identik dengan citra kekuasaan Jokowi. 

Sementara, di saat bersamaan hadir sosok Puan Maharani yang juga tidak kalah menarik sebagai seorang pewaris sah trah Sukarno melalui PDI Perjuangan dengan membawa figur besar Megawati.

Sudah barang tentu, dengan kemunculan ketiga figur ini, menegaskan sekali lagi soal politik Indonesia yang belum sepenuhnya lepas dari pengaruh dinasti. 

Namun, betapapun demikian situasi riilnya, harus diakui bahwa dalam sistem demokrasi elektoral, legitimasi tetap dipengaruhi oleh kapasitas, rekam jejak, dan kemampuan menjalin koalisi luas dan men-drive kekuatan akar rumput. 

Dinasti memang masih menjadi modal penting yang patut diperhitungkan, namun ia bukan jaminan kemenangan. Publik, terutama dari waktu ke waktu semakin rasional dan terinformasi, sehingga faktor kompetensi dan visi strategis menjadi penentu utama.

Dengan begitu, Pilpres 2029 tidak hanya tentang persaingan figur, melainkan juga tentang pertarungan narasi besar tentang arah Indonesia. 

Apakah masyarakat Indonesia bakal memilih keberlanjutan kekuasaan berbasis jejaring domestik yang mapan, atau kepemimpinan dengan perspektif global yang progresif dalam membaca arah zaman? Dinamika inilah yang dipastikan bakal mewarnai perjalanan menuju 2029.

*Strategi Global vs Domestik*

Dalam lanskap politik global yang semakin memicu ketegangan geopolitik, peran seorang kepala negara begitu vital karena ia tidak hanya menjadi sosok yang memainkan peran penting di dalam negeri, tapi juga ikut menentukan arah dan kepentingan perdamaian dunia.

Di tengah rivalitas antara Amerika Serikat (AS), Tiongkok, dan Rusia, dunia pun kini mengalami perubahan kekuatan dari unipolar menjadi multipolar.

AS bukan lagi satu-satunya kekuatan tunggal yang mampu mendikte kepentingan dunia, sebab di belakang masih ada Rusia dan Tiongkok yang juga mempunyai kekuatan yang sepadan, ketika berbicara tentang kekuatan ekonomi maupun militer.

Menariknya, dalam beberapa dasawarsa terakhir, dinamika politik global semakin mengalami ketegangan yang cukup ekstrem melalui berbagai aksi yang dimunculkan oleh kekuatan arus utama dunia tersebut.

Menghadapi situasi dan kondisi semacam ini, konflik kawasan, krisis energi, serta ancaman keamanan siber menjadi agenda genting yang tidak bisa diabaikan para pemimpin dunia, termasuk Indonesia.

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, agenda-agenda strategi nasional perlahan mulai selaras dengan visi kepentingan global.

Di samping itu, menghadapi tensi persaingan global membuat kepemimpinan nasional harus memiliki perspektif geopolitik yang kuat. 

Dalam konteks ini, sosok Prabowo kerap dipersepsikan sebagai pemimpin dengan orientasi strategis global, teristimewa melalui pengalamannya di bidang pertahanan dan diplomasi militer.

Pendekatan Prabowo cenderung menempatkan Indonesia sebagai aktor regional yang tidak sekadar ikut bersuara tapi juga proaktif dan strategis dalam memengaruhi keputusan pemimpin-pemimpin terkemuka dunia. 

Penguatan alutsista, modernisasi pertahanan, serta diplomasi pertahanan dalam negeri dengan berbagai kekuatan dunia mencerminkan visi politik yang harus dimiliki seorang pemimpin Indonesia di masa depan.

Sementara, jika tiga figur dinasti AHY, Gibran, dan Puan, secara umum masih identik dengan pendekatan domestik yang menitikberatkan pembangunan internal, seperti stabilitas politik, kesinambungan program kesejahteraan, dan penguatan ekonomi nasional berbasis kerakyatan. 

Tentu bukan sesuatu keliru, namun urgensi kebijakan dan upaya membangun kekuatan saat ini harus mempertimbangkan kepentingan geostrategis dan antisipasi pergeseran peta kekuatan politik global yang sedang berlangsung ekstrem.

Dalam menghadapi tantangan ini, Prabowo masih memiliki keunggulan tersendiri dibanding tiga faksi kekuatan lainnya.

Hal ini karena Prabowo memiliki pengalaman dan jejaring internasional yang luas, sekaligus pemahaman tentang keseimbangan kekuatan global yang diakui banyak pihak. 

Dalam konteks urgensi persaingan geopolitik, figur dengan kapasitas membaca dinamika global sudah pasti akan mendulang dukungan yang besar.

Namun demikian, pada akhirnya, Pilpres 2029 akan kembali ditentukan oleh pilihan masyarakat Indonesia (*Indonesia Memilih*) yang memiliki pembacaan dan analisis yang kuat dan tepat atas figur-figur yang berkonestasi di 2029 nanti.

*Penulis adalah Direktur Eksekutif INISIATOR*

Posting Komentar untuk "Membaca Peta Politik 2029"